cover

Menjerat Burung Demi Untung

Sumatera Utara merupakan salah satu daerah penting bagi kehidupan jenis burung liar. Hal ini secara resmi ditetapkan oleh Birdlife International sejak 2004. Di provinsi ini terdapat dua kelompok besar burung liar yaitu burung darat (terestrial birds) dan burung air (waterbirds).

Secara umum tercatat 397 spesies burung liar di Pulau Sumatera. Sayangnya, kekayaan avifauna di pulau ini justru membuka ruang terjadinya perdagangan satwa liar.

Perdagangan burung-burung bermunculan untuk menyuplai kebutuhan konsumsi, piaraan sampai seremonial adat.

Salah satu lokasi burung air liar yang sedang menjadi bahan pembicaraan adalah Kawasan Pesisir Pantai Timur Kabupaten Deli Serdang. Lokasi tersebut merupakan persinggahan ribuan burung air migran selama musim migrasi pada September sampai Maret.

Menurut UU No.5/1990 dan PP No 7/1999, dari 57 spesies burung air migran yang terdapat di Indonesia hanya 8 spesies yang dilindungi, di antaranya adalah jenis gajahan Numenius spp. (5 spesies), Limnodromus semipalmatus (Trinil-lumpur Asia), Tringa guttifer (Trinil Nordmann), dan Vanellus macropterus (Trulek Jawa).

Berdasarkan penelitian hingga 2011, terdapat 28 spesies burung air migran yang singgah di Pesisir Pantai Timur. Kelompok burung tersebut didominasi oleh dua famili yaitu Charadriidae (cerek-cerekan) dan Scolopacidae (trinil, biru laut, gajahan, dan kedidi).

Di antara kedua suku tersebut tercatat Pluvialis fulva (Cerek kernyut), Pluvialis squatarola (Cerek besar), Charadrius mongolus (Cerek-pasir Mongolia), Charadrius leschenaultii (Cerek-pasir besar), Limosa lapponica (Biru-laut ekor-blorok), Limosa limosa (Biru-laut ekor-hitam), Limndoromus semipalmatus (Trinil-lumpur Asia), Tringa totanus (Trinil kaki-merah), Tringa nebularia (Trinil-kaki hijau), Tringa guttifer (Trinil Nordmann), Tringa stagnatilis (Trinil semak), Numenius phaeopus (Gajahan pengala), Numenius arquata (Gajahan besar), Calidris tenuirostris (Kedidi besar), Calidris canutus (Kedidi merah), dan Calidris ferruginea (Kedidi golgol). Jumlah kelompok burung terbanyak yang teramati mencapai 8 ribu ekor lebih.

Mereka berkumpul mencari makan pada hamparan lumpur selama musim migrasi. Jumlah fantastis seperti ini tentu memikat sebagian masyarakat pesisir untuk menangkap dan menjual burung migran sebagai hidangan.

Selanjutnya para penjerat burung pun ‘panen’. Meski hanya dengan menggunakan perangkap sederhana, mereka mampu menangkap jumlah yang tak sedikit dengan harga yang murah!

Berdasarkan catatan kami, harga burung migran dari jenis Gajahan pengala dijual Rp. 15 ribu siap santap. Untuk jenis-jenis yang lebih kecil seperti Trinil kaki-merah, Trinil-lumpur Asia, dan Kedidi besar dihargai Rp. 7 ribu dan Xenus cinereus (Trinil bedaran), Cerek-pasir Mongolia serta Cerek kernyut dijual Rp. 5 ribu.

Lalu bagaimana para penjerat memperoleh burung-burung tersebut? Biasanya mereka meletakkan jaring-jaring halus (mirip mist net) di hamparan lumpur atau di daerah rawa dan tambak yang ada di sekitar pesisir tempat burung berkumpul.

Pengecekan baru dilakukan dua sampai tiga hari kemudian. Oleh karena itu, tidak heran terkadang ditemukan burung yang terjerat dan sudah mati. Setelah itu, mereka mengantarkannya ke pengumpul atau pembeli langsung. Ketika musim migrasi, mereka lebih sering melakukan pengecekan.

Teknik sederhana lainnya adalah dengan menggunakan bambu dan getah. Peralatan itu dimodifikasi sesuai dengan sifat burung yang ingin ditangkap. Perangkap terdiri dari dua ruangan, yaitu ruang bawah sebagai tempat burung pancingan yang berfungsi untuk memancing burung dengan suara dan ruang atas sebagai ruang perangkap. Perangkap bambu digunakan untuk burung-burung seperti Parus major (Gelatik-batu kelabu), Prinia familiaris (Perenjak jawa), Orthotomus ruficeps (Cinenen kelabu), Pycnonotus zeylanicus (Cucak rawa), Pycnonotus aurigaster (Cucak kutilang) dan Lanius schach (Bentet kelabu).

Sedangkan perangkap getah digunakan dengan cara mengoleskan getah tersebut di cabang pohon berbuah yang sudah diketahui tempat burung sering bertengger. Alat ini mudah sekali menjerat jenis burung yang lebih besar seperti Garrulax leucophus bicolor (Poksai jambul), Oriolus chinensis (Kepudang kuduk-hitam) dan Cissa chinensis (Ekek layongan).

Perdagangan burung pun juga terjadi di Kota Medan. Di kota ini justru terdapat display burung-burung liar. Pasar yang terkenal adalah Pasar Bintang, Pasar Brayan, dan Pasar Merak Jinggayang melaksanakan praktik jual beli unggas serta satwa lain. Tapi yang dijual di pasar tersebut dominan kelompok burung darat.

Eksistensi pasar burung ini tidak lepas dari keberadaan peminat burung. Kontes kicau burung yang menarik menjadikan pasar burung tetap diminati beberapa warga. Begitu juga kebutuhan burung untuk keperluan adat istiadat dan kepentingan lainnya.

Selain itu, posisi Kota Medan sangat strategis sebagai jalur perdagangan satwa liar. Tidak heran kota ini juga menjadi persinggahan praktik penyelundupan satwa liar ke luar daerah atau bahkan ke luar negeri.

Suplai burung yang dijual kebanyakan hasil tangkapan dari hutan sekitar Kota Medan. Dalam pengamatan selama sehari di tiga lokasi perdagangan burung, tidak kurang 80 spesies kami catat dari lebih 20 toko yang beroperasi. Kelompok pipit, bondol, gelatik (famili Estrildidae) merupakan kelompok burung yang paling banyak dijual. Jumlahnya lebih dari 300 ekor per pasar. Jenis-jenis yang umumnya dijual yaitu Lonchura maja (Bondol haji), L. punctulata (Bondol peking), L. malacca (Bondol rawa). Selain itu, kelompok cucak-cucakan, merbah, empuloh, dan brinji (Pycnonotidae) juga banyak dijual.

Salah satu jenis burung favorit pembeli dari kelompok ini adalah Cucak rawa (Pycnonotus zeylanicus) karena kicauannya yang merdu. Harganya mencapai Rp 6 juta hingga 8 juta per ekor. Di beberapa toko juga ditemukan jenis burung yang dilindungi yaitu Elanus caeruleus (Elang tikus), Anthreptes malacensis (Burung-madu kelapa), dan Gracula religiosa (Tiong emas). Untuk jenis Tiong emas ditemukan hampir merata di setiap toko dengan kisaran harga Rp. 1,5 juta sampai Rp. 4 juta.

Permintaan burung yang terus meningkat sudah pasti menyebabkan turunnya jumlah burung di alam liar. Menurut pengakuan salah seorang penangkap, selama 10 tahun ia merasakan turunnya populasi burung target. “Saya tidak pernah lagi menjumpai burung Cucak rawa,” katanya. Kondisi ini tentu harus menjadi perhatian dari berbagai pihak supaya fungsi ekologis burung di alam tetap terjaga.

Penulis dan foto : Chairunas Adha Putra & Desy Hikmatullah

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

Connect with Facebook

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>