GORONTALO, KOMPAS - Populasi maleo, burung endemik Sulawesi, dipastikan bertambah dalam kurun tiga bulan terakhir. Di lokasi penetasan telur maleo di hutan Hungayono, Kecamatan Suwawa Timur, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, tingkat keberhasilan penetasan mencapai 50 persen.

Di lokasi penetasan telur maleo oleh Wildlife Conservation Society (WCS), organisasi nirlaba bidang pelestarian kehidupan alam liar, di Gorontalo, setiap 100 telur yang ditetaskan, 50 butir di antaranya menetas. Biasanya, paling banyak hanya 30 butir yang menetas. Lonjakan keberhasilan penetasan ini terjadi sejak November 2011.

”Cuaca dalam tiga bulan terakhir mendukung penetasan telur maleo. Suhu dan kelembaban tanah yang menjadi tempat penetasan stabil sehingga peluang telur menetas meningkat,” ujar asisten peneliti dari WCS Gorontalo, Usman, Rabu (8/2), di Gorontalo.

Menurut Usman, suhu tanah yang cocok untuk peneluran maleo 32-34 derajat celsius. Lokasi penetasan telur di kawasan hutan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone terbantu adanya sumber mata air panas di dekat lokasi itu. Apalagi, musim bertelur maleo paling banyak terjadi pada akhir tahun.

”Walau hanya ada penambahan sekitar 150 ekor dalam tiga bulan terakhir, jumlah itu sangat berarti untuk pelestarian maleo yang kini berstatus genting,” kata Usman.

WCS menekuni pelestarian maleo di Gorontalo sejak tahun 2003. Kegiatan mereka memindahkan telur maleo di alam liar ke tempat penetasan buatan. Tujuannya, mencegah predator telur maleo, seperti biawak, ular, dan manusia. Hingga kini, sekitar 3.300 anak maleo hasil penetasan dilepas ke alam bebas.

Berdasarkan catatan Burung Indonesia, organisasi nirlaba bidang pelestarian burung di Indonesia, populasi burung ini hanya sekitar 10.000 ekor di Gorontalo. Padahal, 15 tahun lalu, jumlah burung endemik Sulawesi ini mencapai 25.000 ekor. Ancaman terhadap kelestarian maleo diperkirakan masih akan terus terjadi.

”Selain akibat perburuan manusia, ancaman terhadap maleo juga datang karena habitat mereka terganggu. Aktivitas perambahan hutan mengakibatkan maleo kehilangan tempat tinggal sehingga kelangsungan hidup terganggu,” kata Amsurya Warman, peneliti senior dari Burung Indonesia, di Gorontalo.

Lokasi yang menjadi habitat maleo di Gorontalo adalah Cagar Alam Panua, Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, dan Suaka Margasatwa Nantu. Mereka mencari tanah yang hangat atau pasir untuk menetaskan telurnya. Dalam setahun, seekor maleo betina mampu menghasilkan 10 telur dengan masa penetasan 60 hari. (APO)

Berita dari :KOMPAS.com