Mengamati Burung di Sulawesi Selatan

Jantung saya berdegup kencang saat saya menerima kabar dari kantor Jakarta bahwa saya dimutasi untuk pindah ke Makasar, Sulawesi Selatan. Meninggalkan istri dan anak demi pekerjaan adalah tidak mudah, namun saya berfikir bahwa pekerjaan ini membawa hikmah, yaitu saya bisa melihat keindahan dan mengamati burung di Sulawesi. Di April 2016 ahirnya saya memulai pekerjaan ke Makasar, tak lupa saya membawa kamera dan sebuah buku berjudul “A guide to the Birds of Wallacea” tulisan Brian J.Coates & K.David Bishop.

Decak kagum saat saya membuka buku burung dan memulai membuat list target burung yang akan saya amati dan foto. Saya memulai dengan bertanya lokasi pengamatan di Sulawesi Selatan, namun hanya dua lokasi yaitu Karaenta dan Gunung Lompobattang. Kesempatan pertama memulai pengamatan burung akhirnya tercapai. Bersama dengan teman baru saya, kami datangi dusun Balocci di daerah Pangkep. Satu setengah dari kota Makassar. Gak muluk-muluk target kami, mencari jenis burung endemik! Elang ular sulawesi (Spilornis rufipectus) adalah burung sulawesi pertama yang saya foto di kesempatan pertama hunting. Terbang bebas di langit yang biru, gagah dan mengeluarkan suara “keek” yang diulang-ulang menjadi ciri khas nya. Kemudian di sebelah kiri saya terlihat dua ekor burung kecil berwarna putih dan kuning sedang bercengkrama. β€œ..ahh ternyata burung Cabai panggul kuning (Dicaeum aureolimbatum)”, ujar saya. Setelah saya berjalan sedikit, saya juga berhasil memotret Burung-madu hitam (Nectarinia aspasia). Setelah itu terdengar bunyi β€œtok..tok.. tok..” dengan sangat keras, saya mencari sumber suara tersebut dan ternyata ada seekor burung pelatuk, yaitu Pelatuk kelabu Sulawesi (Mulleripicus fulvus) Masih di dusun yang sama, saya berhasil memotret burung endemik lainnya yaitu Kacamata makassar (Zosterops anomalus), Sikatan bakau sulawesi (Cyornis omissus), Srigunting jambul rambut (Dicrurus hottentottus) dan Bondol taruk (Lonchura molucca). Wow…perjumpaan pertama yang sangat mengesankan bukan ?? Di lain kesempatan dengan lokasi yang sama, saua berhasil menjumpai Gagak Sulawesi (Corvus typicus) sebanyak 3 ekor. Burung gagak yang berwarna hitam dan putih ini mulai sulit dijumpai karena maraknya perburuan dan perdagangan satwa liar. Saya juga menjumpai burung lain, seperti Kadalan sulawesi (Phaenicophaeus calyorhynchus), Raja-perling sulawesi (Basilornis celebensis), Serindit sulawesi (Loriculus stigmatus) dan burung yang cantik dan luar biasa, yaitu Walik raja (Ptilinopus melanospila).

Kesan pertama yang begitu menggoda. Satu lokasi di Sulawesi selatan yang bisa jumpai banyak burung endemik. Saat saya merindukan keluarga dan tidak kembali ke ibu kota, disitulah waktunya saya akan bertemu dengan burung cantik di Sulawesi Selatan.

Penulis: Kristiadi Nugroho, fotografer di Makasar

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *