Mencari Sang Gelatik di Hari Batik

Suara “Kut…kut…kut,” lembut dari takur tulungtumpuk menyambut saya dan seorang rekan di pintu masuk Kompleks Candi Prambanan. Terik matahari siang itu seakan tidak menjadi beban bagi burung-burung untuk terus bernyanyi, seakan ingin menghibur ratusan turis di kompleks tersebut. Sayang, para turis lebih tertarik pada layar kamera masing-masing, seakan tidak mendengar suara alam yang bernyanyi merdu di sekitar mereka.

Saya mengibas baju batik saya yang lembab, penuh keringat yang terperas mentari. Baju kondangan ini memang tidak cocok dikenakan di Kompleks Prambanan nan terik, malah membuat kami terlihat seperti pemandu wisata yang menunggu kedatangan wisatawan. Memang tidak nyaman, tapi kami sengaja menggunakannya untuk mengamati burung di Hari Batik Nasional.

Seperti komunitas lain di Indonesia, para birdwatcher Indonesia juga punya cara sendiri dalam merayakan Hari Batik Nasional. Di hari itu, ratusan pengamat burung terjun ke lapangan dengan pakaian batik, seakan ingin menghadiri acara formal di tengah hutan. Kegiatan yang sering disebut sebagai Buharti (Pengamatan Burung di Hari Batik) ini selalu disambut meriah setiap tahun dan menjadi salah satu agenda yang paling ditunggu oleh para pengamat burung di Indonesia.

Di tahun ini, kami berdua memilih Candi Prambanan sebagai lokasi perayaan Buharti. Selain memiliki gugusan ratusan candi yang penuh sejarah, kompleks Candi Prambanan juga dikelilingi oleh area taman yang luas, pepohonan rindang, serta hamparan sawah di luar pagar . Hal ini membuatnya digemari oleh berbagai jenis burung, baik yang umum maupun langka. Tak ayal, kompleks ini pun menjadi salah satu lokasi pengamatan burung terbaik di Yogyakarta.

Beberapa ekor Kekep Babi dan Layanglayang Loreng bertengger manis di atas Candi Syiwa ketika kami memasuki pelataran candi utama. Sesekali mereka terbang berputar-putar, melakukan manuver-manuver cantik di sekitar candi megah milik Bathara Syiwa. Candi yang menjulang tinggi ini pun menjadi tempat bertengger favorit bagi kedua burung yang hobi terbang berakrobat sambil menangkap serangga tersebut.

Pandangan kami kemudian terfokus pada candi yang sedikit lebih kecil di sebelah timur, Candi Wisnu, lokasi bersarang para Gelatik Jawa yang menjadi bintang utama di kawasan ini.

Entah mengapa Gelatik Jawa memilih candi ini sebagai lokasi bersarang, mungkin pesona Dewa Wisnu sebagai pemelihara alam semesta lebih memikat ketimbang dua Dewa Trimurti lain di kompleks ini. Kawasan ini pun dikenal sebagai salah satu dari sedikit lokasi bersarang yang masih tersisa bagi Gelatik Jawa di era modern, menyusul penyusutan populasi ekstrem beberapa tahun terakhir. Sayangnya kami datang ketika musim berbiak Gelatik Jawa sudah berakhir sejak satu bulan yang lalu, sehingga tidak ada satu pun Gelatik Jawa yang terlihat siang hari itu.

Tak putus semangat, kami memutuskan untuk berkeliling mengamati relief-relief unik di tiga candi utama. Di sini terdapat pahatan berbagai jenis burung seperti merak, rangkong, cangak dan ayam-hutan yang cukup mudah dikenali oleh pengamat burung. Uniknya ada juga motif burung kakatua, meskipun tidak ada catatan keberadaan burung tersebut di tanah Jawa. Mungkin burung ini sempat menjadi spesies yang umum di Jawa pada saat candi ini dibangun, sebelum akhirnya punah dengan sebab yang tak diketahui.

Sejenak saya merenung melihat ukiran tersebut, berusaha memahami ide Sang Pemahat ketika mengukir relief-relief cantik ini.

Burung memang dikenal sebagai sumber inspirasi para seniman dari masa ke masa, mulai dari lukisan gua di Lascaux hingga sketsa sarang burung karya Vincent Van Gogh. Selain itu burung juga memberi arti mendalam bagi karya mereka, seperti burung gagak yang menjelma menjadi simbol kematian dan kesedihan dalam puisi The Raven karya Edgar Allen Poe.

Dalam dunia seni batik, satwa burung pun menjadi salah satu motif yang sering digunakan. Sama seperti motif-motif lain, burung membawa makna tersendiri bagi keseluruhan pola batik. Simbol burung bangau memberi kesan kaya umur panjang dalam pola batik peranakan Tionghoa. Sementara itu, motif burung gelatik jawa yang sedang kami cari memiliki arti sukacita, berhubungan dengan meningkatnya populasi burung tersebut menjelang musim panen raya.

Ironisnya, hal ini tidak sesuai dengan keadaannya kini.

Beberapa dekade yang lalu, Gelatik Jawa dideskripsikan sebagai ‘burung yang sangat umum di kawasan pertanian Jawa’. Populasi burung ini begitu besar sehingga mimpi buruk bagi kaum petani. Konon, burung ini memiliki nafsu makan yang rakus, bahkan menghabiskan satu petak padi dalam waktu singkat. Hal inilah yang membuat Gelatik Jawa sempat disebut sebagai salah satu hama pertanian terburuk di kala itu.

Keadaan ini mulai berubah pada tahun 1970-an. Wajah imut serta perilakunya yang lucu membuat burung ini digemari oleh hobiis burung di seluruh dunia, bahkan menjadi burung peliharaan terumum di Amerika Serikat pada saat itu. Permintaan pasar melonjak, memicu perburuan besar-besaran di tanah Jawa yang membuat populasi burung ini menurun drastis. Pada tahun 1994, IUCN pun mengkategorikan Gelatik Jawa sebagai spesies yang rentang punah (vulnurable). Status Gelatik Jawa pun berubah dari burung terumum di tanah Jawa menjadi spesies yang terancam punah hanya dalam waktu beberapa puluh tahun.

Beruntung, malapetaka ini tidak berujung kepunahan—beberapa populasi Gelatik Jawa berhasil bertahan dalam kelompok kecil, termasuk di Kompleks Candi Prambanan. Tapi hal ini bukan berarti mereka terbebas dari ancaman kepunahan. Dalam buku “Bio-ekologi dan Konservasi Gelatik Jawa” yang ditulis oleh Pramana Yudha—peneliti Gelatik Jawa senior dari Yogyakarta—terdapat beberapa ancaman bagi sisa-sisa populasi Gelatik Jawa seperti perburuan, kompetisi dengan burung gereja erasia (Passer montanus), penggunaan pestisida, serta penyakit.

Dari semua ancaman ini, faktor perburuan dan perdagangan dianggap masih menjadi ancaman terbesar bagi kelestarian ini, terungkap dari tingginya tingkat penangkapan khususnya di kawasan Yogyakarta dan Jawa Tengah. Di kawasan Prambanan sendiri tingkat penangkapan mencapai 53,6% dari populasinya yang tersisa di kawasan itu.

Melihat fakta ini, bukan tidak mungkin gelatik jawa akan menemui nasib yang sama seperti kakatua yang ada terukir di Candi Prambanan—punah dari tanah Jawa, hanya menyisakan gambar samar di kain batik yang kita gunakan.

Hari sudah semakin sore dengan awan mendung yang menggantung di langit. Kami pun memutuskan untuk menyudahi pengamatan di hari itu, meski tidak ada satu pun Gelatik Jawa yang terlihat. Tapi kami tidak pulang dengan tangan hampa. Ada beberapa pelajaran yang kami dapat antara candi, batik dan burung gelatik jawa. Ketiga memang terlihat berbeda, tapi semuanya merupakan warisan bangsa yang memiliki peran signifikan dalam budaya Nusantara. Ketiganya pun sama-sama menderita oleh berbagai tekanan dunia modern, tergusur oleh perkembangan zaman yang menjadi-jadi.

 

Penulis : Panji Gusti Akbar dan Usi Fahrisa Nur

Tulisan merupakan hasil lomba penulisan populer 2016

One thought on “Mencari Sang Gelatik di Hari Batik

  • Monday January 2nd, 2017 at 07:07 PM
    Permalink

    Karya yang bagus.,,,artikel ini menarik untuk dibaca. Keren… Sangat menarik, terutama karena penyampaiannya yang dikaitkan dgn budaya nusantara.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *